Remaja
berasal dari kata latin adolesence yang berarti tumbuh atau tumbuh
menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi
yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock,
1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak
termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.
Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1990) bahwa masa
remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.
Borring E.G. ( dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan bahwa masa remaja
merupakan suatu periode atau masa tumbuhnya seseorang dalam masa
transisi dari anak-anak kemasa dewasa, yang meliputi semua perkembangan
yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Sedangkan Monks,
dkk ( dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja suatu masa
disaat individu berkembang dari pertama kali menunjukkan tanda-tanda
seksual, mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari
anak menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari ketergantungan sosial
ekonomi yang penuh pada keadaan yang mandiri.
Neidahart (dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja
merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa anak-anak kemasa
dewasa, dan pada masa ini remaja dituntut untuk mandiri. Pendapat ini
hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Ottorank (dalam Hurlock, 1990 )
bahwa masa remaja merupakan masa perubahan yang drastis dari keadaan
tergantung menjadi keadaan mandiri, bahkan Daradjat (dalam Hurlock, 1990
) mengatakan masa remaja adalah masa dimana munculnya berbagai
kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang
lebih jelas dan daya fikir yang matang.
Erikson (dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja
adalah masa kritis identitas atau masalah identitas – ego remaja.
Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa
dirinya dan apa perannya dalam masyarakat, serta usaha mencari perasaan
kesinambungan dan kesamaan baru para remaja harus memperjuangkan kembali
dan seseorang akan siap menempatkan idola dan ideal seseorang sebagai
pembimbing dalam mencapai identitas akhir.
Berdasarkan beberapa pengertian remaja yang
telah dikemukakan para ahli, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja
adalah individu yang sedang berada pada masa peralihan dari masa
anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang
sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial.
Kamis, 22 November 2012
Jumat, 16 November 2012
Manfaat daun sirsak dan buah sirsak untuk kesehatan
Manfaat daun sirsak dan buah sirsak untuk kesehatan, Jika anda belum mengetahui manfaat dari kandungan buah dan daun Sirsak semoga pada pembahasan singkat mengetahui apa saja manfaat daun sirsak
dan buah sirsak pada kali ini dapat memberikan sebuah berita yg
bermanfaat untuk kita semua. Apalagi jaman sekarang ini segala macam
solusi kesehatan orang banyak menjatuhkan pilihan pada jenis herbal
alias bahan-bahan yang alami dari alam.
Beberapa khasiat daun sirsak yang harus kita Ketahui:
1. Untuk Pengobatan Penyakit Kanker: 10
lembar daun sirsak yg tua direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1
gelas, minum 2 kali per hari selama 2 minggu. Daun sirsak ini
informasinya mempunyai sifat seperti kemoterapi, bahkan lebih hebat lagi
karena daun sirsak hanya membunuh sel sel yang tumbuh abnormal dan
membiarkan sel sel yang tumbuh normal.
2. Mengobati Sakit Pinggang: Ambil 20
lembar daun sirsak, lalu direbus dengan 5 gelas air hingga mendidih dan
tinggal3 gelas, diminum setelah dingin 1 kali sehari 3/4 gelas.
3. Pengobatan Bayi Mencret: Ambil Buah
sirsak yang telah masak dan selanjutnya buah sirsak tersebut diperas dan
disaring untuk diambil airnya saja, Berikan dengan cara meminumkan pada
bayi yang mencret sebanyak 3-4 sendok makan hingga sembuh penyakitnya.
4. Obat Ambeien: Ambil buah sirsak yang
sudah masak. Lalu peras untuk diambil airnya sebanyak 1 gelas dan
diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
5. Mengobati Bisul: Ambil daun sirsak
yang masih muda sebanyak 5 sampai 10 helai lalu tempelkan di tempat yang
terkena bisul hinggal bisul mengering.
6. Obat Anyang-anyangen: Siapkan buah
sirsak setengah masak dan gula pasir secukupnya. Lalu buah sirsak
tersebut dikupas dan direbus dengan gula tadi bersama-sama dengan
campuran air sebanyak 2 gelas, setelah itu disaring dan diminum rutin.
7. Sakit Pada Kandung Air Seni: Ambil
buah sirsak setengah masak, gula pasir dan garam dapur secukupnya. Semua
bahan tadi dimasak seperti membuat kolak. Dimakan biasa dan terus
dilakukan secara rutin setiap hari selama kurang lebih 1 minggu
berturut-turut.
8. Mengobati Penyakit Liver: Puasa untuk memakan makanan lain, hanya minum juice buah sirsak selama 1 minggu penuh.
9. Ampuh untuk Eksim dan Rematik: Tumbuk
beberapa helai daun sirsak sampai halus dan tempelkan di bagian yang
sakit hingga tidak terasa sakit lagi, biasanya harus dilakukan hingga
beberapa hari.
10. Manfaat Bunga Sirsak: Bunga sirsak
juga dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit katarak namun bagaimana
cara penggunaannya penulis belum mengetahui secara pasti. Nanti jika
saya sudah dapatkan infonya akan penulis tuliskan di sini…
Itulah beberapa manfaat buah sirsak
yang bisa kita ambil dari mengkonsumsi buah yang mempunyai daging yang
lunak ini. Tapi bagi anda yang mempunyai bibit penyakit malaria harus
sedikit berhati-hati mengkonsumsi buah sirsak, Karena rasanya yang asam dapat membangkitkan penyakit malaria yang ada di tubuh anda.
Kerjasama dalam belajar
Kerja sama atau belajar bersama adalah proses beregu (berkelompok) di mana anggota-anggotanya mendukung dan saling mengandalkan untuk mencapai suatu hasil mufakat. Ruang kelas suatu tempat yang sangat baik untuk membangun kemampuan kelompok (tim), yang Anda butuhkan kemudian di dalam kehidupan.
Kerja sama/belajar bersama adalah saling mempengaruhi sebagai anggota tim, Anda:
Mengacu pada pedoman berkelompok
Kerja sama/belajar bersama adalah saling mempengaruhi sebagai anggota tim, Anda:
- Membangun dan membagi suatu tujuan yang lumrah
- Sumbangkan pemahamanmu tentang permasalahan: pertanyaaan, wawasan, dan pemecahan
- Tanggap terhadap, dan belajar memahami, pertanyaan lain, wawasan dan penyelesaian.
- Setiap anggota memperkuat yang lain untuk berbicara dan berpartisipasi, dan menentukan kontribusi (sumbangan) mereka.
- Bertanggung jawab terhadap yang lain, dan mereka bertanggung jawab pada Anda
- Bergantung pada yang lain, dan mereka bergantung pada Anda
- Kegiatan tim berawal dengan latihan, dan proses pengertian kelompok.
Seorang instruktur mulai dengan memfasilitasi diskusi dan memberikan nasehat alternatif
tetapi jangan membebankan pemecahan pada tim, khususnya bagi mereka yang sulit bekerja sama. - Tiga sampai empat orang
Tim yang besar menyulitkan untuk melibatkan setiap orang - Guru- menempatkan kelompok
Menentukan kelompok berfungsi lebih baik daripada menempatkan diri sendiri - Berbagai tingkat ketrampilan (kemampuan), latar belakang, pengalaman:
- Setiap individu memperkuat kelompok
- Setiap anggota kelompok bertanggung jawab tidak hanya untuk menyumbangkan kekuatannya, tetapi juga membantu pemahaman sumber dari kekuatan mereka.
- Siapa saja yang tidak beruntung atau tidak senang dengan keseluruhan mayoritas harus diberanikan dan didorong untuk berpartisipasi secara proaktif.
- Belajar adalah pengaruh yang positif dengan peningkatan pilihan berbagai perspektif dan pengalaman untuk memecahkan persoalan, dan memperluas jarak rincian pertimbangan
- Tanggung jawab setiap anggota untuk mencapai suatu tujuan ditentukan dan dimengerti melalui kelompok
- Jarak kerahasiaan antar anggota kelompok adalah cara terbaik untuk menilai siapa dia dan siapa yang tidak berkontribusi (berpartisipasi)
- Kelompok mempunyai hak untuk memecat mereka yang tidak bekerja sama dan tidak berpartisipasi kalau semua bantuan gagal.
(Orang yang dipecat kemudian dicarikan kelompok yang lain yang mau menerima dia) - Seseorang dapat berhenti apabila mereka bekerja banyak dengan sedikit bantuan dari yang lain.
(Orang ini sering mudah menemukan kelompok yang lain yang akan meneriman bantuannya) - Pembagian prinsip-prinsip pengoperasian dan tanggung jawab, ditetapkan dan disetujui oleh setiap anggota. Semua ini termasuk:
- Tanggung jawab untuk hadir, menyiapkan, dan tepat waktu di dalam rapat
- Ada diskusi-diskusi dan ketidaksepakatan terhadap pokok persoalan, menghindari kritik perorangan
- Bertanggung jawab untuk membagi tugas dan menyelesaikannya tepat waktu
Anda perlu melakukan tugas-tugas dengan sedikit pengalaman yang Anda miliki, dengan sebelumnya merasa persiapan tidak sempurna, atau bahkan berpikir yang lain akan berbuat yang terbaik. Terimalah tantangan, tetapi legalah di dalam keadaan bahwa Anda perlu bantuan, latihan, seorang pembimbing, atau harus berhenti dan melakukan tugas yang berbeda.
Mengacu pada pedoman berkelompok
- Buatlah tujuan-tujuan, definisikan seberapa sering dan dengan arti apa Anda akan berkomunikasi, menilai kemajuan, membuat keputusan, dan menyelesaikan persoalan
- Definisikan sumber-sumber, khususnya seseorang yang dapat mengarahkan, mengawas, membimbing, dan bahkan mempertimbangkan.
Sabtu, 10 November 2012
Asas-asas bimbingan konseling
Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.
-
Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
-
Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
-
Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
-
Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
-
Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
-
Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
-
Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
-
Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
-
Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
-
Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
-
Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.
Prinsip-prinsip bimbingan konsdeling
Terdapat
beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan
bagi pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep
filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian
pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di
luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:
-
Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
-
Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
-
Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
-
Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
-
Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling.Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
-
Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
Fungsi Bimbingan dan Konseling
Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah :
-
Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
-
Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
-
Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
-
Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
-
Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
-
Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
-
Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
-
Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
-
Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
-
Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
-
Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling
Pengertain Konseling
Mc. Daniel,1956 menjelaskan bahwa Konseling
adalah suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada
pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara
lebih efektif dengan dirinyasendiri dan lingkungan.
Smith,dalam Shertzer & Stone,1974 menjabarkan bahwa Konseling merupakan suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interprestasi-interprestasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
Konseling, menurut Division of Conseling Psychologi merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu.
Berdnard & Fullmer ,1969 menjelaskan Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut.
Jones ,1951, mengartikan konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia dapat bantuan pribadi da langsung dalam pemecahan masalah itu.
Winkell (2005 : 34), mengemukakan bahwa Konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli / klien secara tatap muka langsung dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap bebagai persoalan atau masalah khusus maka masalah yang dihadapi oleh klien dapat teratasi semuanya.
Hal senada juga dikemukakan oleh Blocher dalam Shertzer & Stone (1969), Konseling adalah membantu individu agar dapat menyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengrauh lingkungan yang diterimanya, selanjutnya, membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku dimasa yang akan datang.
Talbert (1959) mengungkapkan Pengertian Konseling sebagai hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.
Prayitno dan Erman Amti (2004:105) menjelaskan Definisi Konseling sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Smith,dalam Shertzer & Stone,1974 menjabarkan bahwa Konseling merupakan suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interprestasi-interprestasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
Konseling, menurut Division of Conseling Psychologi merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu.
Berdnard & Fullmer ,1969 menjelaskan Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut.
Jones ,1951, mengartikan konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia dapat bantuan pribadi da langsung dalam pemecahan masalah itu.
Winkell (2005 : 34), mengemukakan bahwa Konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli / klien secara tatap muka langsung dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap bebagai persoalan atau masalah khusus maka masalah yang dihadapi oleh klien dapat teratasi semuanya.
Hal senada juga dikemukakan oleh Blocher dalam Shertzer & Stone (1969), Konseling adalah membantu individu agar dapat menyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengrauh lingkungan yang diterimanya, selanjutnya, membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku dimasa yang akan datang.
Talbert (1959) mengungkapkan Pengertian Konseling sebagai hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.
Prayitno dan Erman Amti (2004:105) menjelaskan Definisi Konseling sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Pengertian Bimbingan
Bimbingan merupakan salah satu bentuk helping atau bantuan yang diberikan kepada seseorang yang membutuhkan. Sebuah bimbingan harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan karena hasil dari bimbingan itu sendiri tidak bisa dilihat dalam satu atau dua kali proses bimbingan. Dalam melakukan bimbingan, harus diakukan secara sistematis dan terarah supaya tercapai tujuan yang diinginkan
Berikut ini adalah pengertian dan definisi bimbingan:
# PEARSON
Bimbingan merupakan kesepadanan (match) antara jabatan dengan individu.
# SHERTZER & STONE (1971: 40)
Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri dan lingkungannya
# SUNARYO KARTADINATA (1998: 3)
Bimbingan merupakan proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal)
# ROCHMAN KARTADINATA (1988: 3)
Bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan kehidupan pada umumnya
# NATAWIJAYA (1987)
Bimbingan adalah sutu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri
# NURIHSAN (2005)
Sebuah bimbingan harus berisi penyampaian informasi yang berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang disajikan dalam bentuk pelajaran
# VAN HOOSE (1969)
Bimbingan merupakan bantuan kepada anak-anak dan pemuda dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka menjadi pribadi yang sehat
Bimbingan merupakan usaha membantu anak-anak dan pemuda yang memerlukannya untuk mencapai apa yang menjadi idaman masyarakat dan kehidupan
# ABU BAKAR M. LUDDIN
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu yang normal, yaitu mereka yang memerlukan bantuan dengan peristiwa dan hal yang berlaku pada masa perkembangan yang normal
Kamis, 08 November 2012
Pendekatan bimbingan konseling
Menurut pandangan Gerald Corey
(2005), menguraikan berbagai pendekatan dalam bimbingan dankonseling sebagai
berikut.
1.
Pendekatan Psikoanalitik
Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis
fdan pengalaman-pengalaman dini.motif dan konflik tak sadar adalah sentral
dalam tingkah laku sekarang. adapun perkembangandini penting karena
masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa
kanak-kanak yang direpresi.
2.
Pendekatan Eksistensial-Humanistik
Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup
kesanggupan untuk menyadaridiri, kebebasan untuk menentukan nasib sendiri,
kebebasan dan tanggug jawab, kecemasansebagai suatu unsur dasar, pencrian makna
yang unik didalam dddunia yang tak bermakna, ketikasendirian dan ketika berada
dalam hubungan dengan orang lain, keterhinggaan dan kematian, dankecenderungan
untuk mengaktualkan diri.
3.
Pendekatan Clien-Centered
Pendekatan ini memandang manusia secara positif bahwa
manusia memiliki suatukecenderungan ke arah berfungsi penuh.dalam konteks
hubungan konseling, mengalami perasaanyang sebelumnya diingkari. klien
mengaktualkan potensi danbergerak kearah peningkatankesadaran, spontanitas,
kepercayaan kepada diri, dan keterarahan.
4.
Pendekatan Gestalt
Manusia terdorong kearah keseluruhan dan integrasi
pemikiran perasaan serta tingkahlaku. pandangannya anati deterministik dalam
arti individu dipandang memilikikesanggupanuntuk menyadaribagaimana pengaruh
masa lampau berkaitan dengan kesulitansekarang.
5.
Pendekatan Analisis Transaksional
Manusia dipandang memiliki kemampuan memilih. apa yang
sebelumnya ditetapkan, bisaditetapkan ulang. meskipun manusia bisa menjadi
korban dari putusan-putusan bingung dansekenario kehidupan, aspek-aspek yang
mengalihkan diri bisa diubah dengan kesadaran.
1.
Pendekatan Tingkah Laku
Manusia dibentuk dan dikondisikan oleh pengondisian
sosial budaya. pandangannyadeterministik, dalam arti, tingkah laku dipandang
sebagai hasil belajar dan pengondisian.
2.
Pendekatan Rasional Emotif
Manusia dilahirkan dengan potensi untuk berpikir
rasional, tetapi juga dengankecenderungan-kecenderungan kearah berpikir curang.
mereka cenderung untuk menjadi korbandari keyakinan-keyakinan yang rasional dan
untuk mereindoktrinasi dengan keyakinan-keyakinanyang irasional itu, tetapi
berorientasi kognitif-tingkah laku-tindakan, dan menekankan berpikir,menilai,
menganilisis, melakukan, dan memutuskan ulang. modelnya adalah didaktif
direktif,tetapi dilihat sebagai proses reduksi.
3.
Pendekatan Realitas
Pendekatan realitas berlandaskan motivasi pertumbuhan
dan anti deterministik.
Pelaksanaan Konseling Kelompok
Kegiatan ini diawali dengan
menghimpun calon peserta yang akan dilibatkan dalam koneling kelompok, serta
menentukan waktu dan tempat yang akan digunakan.
URAIAN KEGIATAN
Konseling kelompok dibagi 4 tahap
yaitu :
Tahap
1
: Pembentukan
Tahap
2
: Peralihan
Tahap
3
: Kegiatan
Tahap
4
: Pengakhiran
TAHAP 1
Tahap ini merupakan tahap
pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri kedalam kehidupan
suatu kelompok. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
- Pembentukan kelompok
- Mengatur posisi duduk, sedemikian rupa sehingga seluruh anggota kelompok bisa duduk
berhadap-hadapansatu sama lain.
- Doa bersama
- Para anggota saling memperkenalkan diri, dan juga mengungkapkan tujuandan harapannya yang ingin dicapai
- Selanjutnya konselor sebagai pemimpin kelompok, menjelaskan tujuan yang ingin dicapai melalui konseling kelompok, kode etik, dan azas kerahasiaan perlu ditekankan
TAHAP 2
- Pemimpin kelompok menjelaskan tata tertib dari kegiatan-kegiatan yang akan ditempuh pada tahap III. ( merupakan kegiatan kelompok)
- Setelah itu pemimpinkelompok menawarkan apakah para anggota kelompok sudah siap untuk memulai kegiatan lebih lanjut kalau tawaran ini masih menimbulkan suasana pelibatan yang masih ragu dan was-was dari para anggota maka sebaiknya ditegaskan kembali mengenai maksud dan tujuan dan jaminan kerahasiaan. Kalau perlu mengulang kembali beberapa aspek dalam tahap pembentukan.
Kalau tawaran ini masih menimbulkan
suasana yang ragu-ragu dan was-was anggota, maka sebaiknya ditegaskan kembali
mengenai maksud dan tujuan serta jaminan kerahasiaan, jika perlu
mengulangi kembali beberapa aspek dalam tahap pembentukan
TAHAP 3.
1. Tiap anggota secara bergiliran
mengemukakan masalah yang sedang dialaminya.
2. Setelah anggota kelompok selesai
mengemukakan masalahnya masing-masing .
3. Mengadakan musyawarah guna
menentukan masalah siapa dulu yang harus diprioritaskan pemaparannya, yang
menjadi pertembangan dalam menentukan prioritas adalah masalah yang mendesak
untuk ditangani dan yang menarik.
4. Untuk selanjutnya, jika
memungkinkan menentukan urutan berikutnya, saat itu juga.
5. Menentukan masalah siswa yang
menjadi prioritas
6. Guru pembimbing mempersilakan
siswa yang mempunyai masalah itu untuk mengungkap kembali secara mendalam.
7. Guru pembimbing menawarkan kepada
tsemua anggota kelompok untuk memberi tanggapan, saran, pendapat atau nasihat
untuk minta jalan keluar/ pemecahan masalah tersebut.
TAHAP 4.
- Pemimpin kelompok memberitahu bahwa bahwa kegiatan akan diakhiri.
- Konselor, pimpinan kelompok menyampaikan kesan pesan yang diperolehnya melalui kegiatan ini.
- Konselor mempersilakan para anggota kelompok untuk mengemukakan kesannya dan hasil sesuai kegiatani ini.
- Konselor menawarkan musyawarah merencanakan pertemuan berikutnya, tentunya untuk menentukan masalah berikutnya.
- Do’a penutup, dipimpin konselor.
- Menyanyi bersama.
Asumsi Bimbingan Perkembangan
Model Bimbingan
dan Konseling Perkembangan memungkinkan konselor untuk memfokuskan tidak
sekedar terhadap gangguan emosional klien, melainkan lebih mengupayakan
pencapaian tujuan dalam kaitannya dengan penguasaan tugas-tugas
perkembangan, menjembatani tugas-tugas
yang muncul pada saat tertentu, dan meningkatkan sumber daya dan kompetensi
dalam memberikan bantuan terhadap pola perkembangan yang optimal dari klien
(Blocher, 1987:79)
Menurut Myrick,
dalam Muro dan Kottman (1995:49), Bimbingan dan Konseling Perkembangan
didasarkan pada asumsi bahwa sifat manusia secara invidual bergerak secara urut
dan secara positif menuju peningkatan diri (developmental
guidance and counseling are based on the premise that human nature moves
individuals sequentially and positively toward self-enhancement). Model
bimbingan dan konseling ini juga memiliki asumsi bahwa potensi individu
merupakan aset yang berharga bagi kemanusiaan. Dorongan dari dalam ini
memerlukan kesepakatan dengan kekuatan dalam lingkungan. Pengembangan kemanusiaan merupakan interaksi individual di
mana ia berpijak pada peraturan, perundangan, dan nilai-nilai yang saling
melengkapi.
Menurut Blocher
(1974:5), asumsi dasar Bimbingan dan Konseling Perkembangan yaitu perkembangan
individu akan berlangsung dalam interaksi yang sehat antara individu dengan
lingkungannya. Asumsi ini membawa dua implikasi pokok bagi pelaksanaan
bimbingan dan konseling di sekolah, yakni:
- Perkembangan adalah tujuan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu,para Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) sekolah perlu memiliki kerangka berfikir konseptual untuk memahami perkembangan siswa sebagai dasar perumusan isi dan tujuan bimbingan dan konseling.
- Interaksi yang sehat merupakan suatu Iklim perkembangan yang harus dikembangkan oleh Guru Bimbingan dan Konseling. Oleh karena itu Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) perlu menguasai pengetahuan dan ketrampilan khusus untuk mengembangkan interaksi yang sehat sebagai pendukung sistem layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Perkembangan
perilaku siswa yang efektif dapat dilihat dari tingkat pencapaian tugas-tugas
perkembangan dalam setiap tahapan perkembangan. Oleh karena itu, untuk memahami
karakteristik siswa sebagai dasar pengembangan program bimbingan dan konseling
di sekolah, difokuskan pada pencapaian tugas-tugas
perkembangannya. Mengkaji
tugas-tugas perkembangan merupakan hal
yang penting dan menjadi dasar bagi
pengembangan dan peningkatan mutu
layanan bimbingan dankonseling.
Langganan:
Postingan (Atom)