Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran
konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,
yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap
untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan
memberi makna melalui pengalaman nyata.
Pandangan konstruktivisme beranggapan bahwa keberhasilan belajar bukan hanya bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi, yaitu proses bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan, maka akan terjadi proses adaptasi yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah. Perubahan paradigm pendidikan berimplikasi terhadap perubahan materi/kurikulum dan metode pembelajaran dari behaviorime menuju konstruktivisme yang beranggapan bahwa peserta belajar adalah organisme aktif serta dengan usahanya dapat menciptakan makna tersendiri sebagai hasil dari proses belajar. Paham ini melihat peserta didik adalah subyek (pelaku) dalam proses belajar, dilandasi oleh teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pebelajar menciptakan pengetahuan saat berusaha memahami pengalaman-pengalamannya. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial) sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Kaum Konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Relasi yang terbangun adalah guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Teori ini bersandarkan pikiran bahwa seorang siswa sesungguhnya pengemudi sekaligus pengendali informasi dan pengalaman baru yang mereka peroleh dalam sebuah proses memahami, mencermati secara kritis, sekaligus melakukan re-interpretasi pengetahuan dalam sebuah siklus belajar-mengajar. Meskipun kita tahu bahwa belajar adalah suatu penafsiran personal dan unik dalam sebuah konteks sosial, tetapi akan lebih bermakna jika akhir dari suatu proses pembelajaran dapat secara langsung memotivasi siswa untuk memahami sekaligus membangun arti baru.
Strategi pembelajaran yang selalu berubah-ubah tanpa melakukan filterisasi akan semua dampak yang akan terjadi baik secara langsung atau tidak langsung dari setiap pembelajaran yang diampuni oleh pendidikan Indonesia. Di sadari atau tidak peran pembelajaran bihaviorisme yang telah ditinggalkan oleh pendidikan Indonesia, masih meiliki peran yang sangat kuat dalam memajukan pendidikan di Indonesia, untuk itu perlu adanya filterisasi akan semua pembelajaran tersebut tidak lantas di tinggalkan begitu saja.
Jika output dari pendidikan Indonesia adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan hidup yang dihadapi, bukan hanya mesin atau robot yang mudah digerakkan kesana kemari, maka teori konstruktivisme patut dijadikan landasan dalam dunia pendidikan kita. Walaupun demikian dalam peroses pembelajaran, pendidik diharapkan tidak memiliki sikap kaku untuk mengembangkan pembelajaran itu sendiri, karena pembelajaran konstruktivisme yang menjadi landasan baru pendidikan di Indonesia tidaklah menjadi satu tumpuan untuk mengembangkan pembelajaran, namun harus disadari peran bihaviorisme yang telah ditinggalkan itu sendiri memiliki peran yang sangat kuat untuk mengembangkan pembelajaran guna memaksimalkan peran pendidikan.
Pandangan konstruktivisme beranggapan bahwa keberhasilan belajar bukan hanya bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi, yaitu proses bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan, maka akan terjadi proses adaptasi yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah. Perubahan paradigm pendidikan berimplikasi terhadap perubahan materi/kurikulum dan metode pembelajaran dari behaviorime menuju konstruktivisme yang beranggapan bahwa peserta belajar adalah organisme aktif serta dengan usahanya dapat menciptakan makna tersendiri sebagai hasil dari proses belajar. Paham ini melihat peserta didik adalah subyek (pelaku) dalam proses belajar, dilandasi oleh teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pebelajar menciptakan pengetahuan saat berusaha memahami pengalaman-pengalamannya. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial) sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Kaum Konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Relasi yang terbangun adalah guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Teori ini bersandarkan pikiran bahwa seorang siswa sesungguhnya pengemudi sekaligus pengendali informasi dan pengalaman baru yang mereka peroleh dalam sebuah proses memahami, mencermati secara kritis, sekaligus melakukan re-interpretasi pengetahuan dalam sebuah siklus belajar-mengajar. Meskipun kita tahu bahwa belajar adalah suatu penafsiran personal dan unik dalam sebuah konteks sosial, tetapi akan lebih bermakna jika akhir dari suatu proses pembelajaran dapat secara langsung memotivasi siswa untuk memahami sekaligus membangun arti baru.
Strategi pembelajaran yang selalu berubah-ubah tanpa melakukan filterisasi akan semua dampak yang akan terjadi baik secara langsung atau tidak langsung dari setiap pembelajaran yang diampuni oleh pendidikan Indonesia. Di sadari atau tidak peran pembelajaran bihaviorisme yang telah ditinggalkan oleh pendidikan Indonesia, masih meiliki peran yang sangat kuat dalam memajukan pendidikan di Indonesia, untuk itu perlu adanya filterisasi akan semua pembelajaran tersebut tidak lantas di tinggalkan begitu saja.
Jika output dari pendidikan Indonesia adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan hidup yang dihadapi, bukan hanya mesin atau robot yang mudah digerakkan kesana kemari, maka teori konstruktivisme patut dijadikan landasan dalam dunia pendidikan kita. Walaupun demikian dalam peroses pembelajaran, pendidik diharapkan tidak memiliki sikap kaku untuk mengembangkan pembelajaran itu sendiri, karena pembelajaran konstruktivisme yang menjadi landasan baru pendidikan di Indonesia tidaklah menjadi satu tumpuan untuk mengembangkan pembelajaran, namun harus disadari peran bihaviorisme yang telah ditinggalkan itu sendiri memiliki peran yang sangat kuat untuk mengembangkan pembelajaran guna memaksimalkan peran pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar