Teori
perubahan perilaku (belajar) dalam kelompok behaviorisme ini memandang manusia
sebagai produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat
pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang membentuk kepribadian
manusia. Behaviorisme tidak bermaksud mempermasalahkan norma-norma pada manusia.
Apakah seorang manusia tergolong baik, tidak baik, emosional, rasional, ataupun
irasional. Di sini hanya dibicarakan bahwa perilaku manusia itu sebagai akibat
berinteraksi dengan lingkungan, dan pola interaksi tersebut harus bisa diamati
dari luar.
Belajar
dalam teori behaviorisme ini selanjutnya dikatakan sebagai hubungan langsung
antara stimulus yang datang dari luar dengan respons yang ditampilkan oleh
individu. Respons tertentu akan muncul dari individu, jika diberi stimulus dari
luar. S singkatan dari Stimulus, dan R singkatan dari Respons.
Pada
umumnya teori belajar yang termasuk ke dalam keluarga besar behaviorisme
memandang manusia sebagai organisme yang netral-pasif-reaktif terhadap stimuli
di sekitar lingkungannya. Orang akan bereaksi jika diberi rangsangan oleh
lingkungan luarnya. Demikian juga jika stimulus dilakukan secara terus menerus
dan dalam waktu yang cukup lama, akan berakibat berubahnya perilaku individu.
Misalnya dalam hal kepercayaan sebagian masyarakat tentang obat-obatan yang
diiklankan di televisi. Mereka sudah tahu dan terbiasa menggunakan obat-obat
tertentu yang secara gencar ditayangkan media televisi. Jika orang sakit maag
maka obatnya adalah promag, waisan, mylanta, ataupun obat-obat lain yang sering
diiklankan televisi. Jenis obat lain tidak pernah digunakannya untuk penyakit
maag tadi, padahal mungkin saja secara higienis obat yang tidak tertampilkan,
lebih manjur, misalnya : Syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan
S-R ini adalah adanya unsur: dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respons,
dan penguatan (reinforcement). Unsur yang pertama, dorongan, adalah suatu
keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang sedang
dirasakannya. Seorang anak merasakan adanya kebutuhan akan tersedianya sejumlah
uang untuk membeli buku bacaan tertentu, maka ia terdorong untuk membelinya
dengan cara meminta uang kepada ibu atau bapaknya. Unsur dorongan ini ada pada
setiap orang, meskipun kadarnya tidak sama, ada yang kuat menggebu, ada yang
lemah tidak terlalu peduli akan terpenuhi atau tidaknya.
Unsur
berikutnya adalah rangsangan atau stimulus. Unsur ini datang dari luar diri
individu, dan tentu saja berbeda dengan dorongan tadi yang datangnya dari
dalam. Contoh rangsangan antara lain adalah bau masakan yang lezat, rayuan
gombal, dan bahkan bisa juga penampilan seorang gadis cantik dengan bikininya
yang ketat.
Dalam
dunia aplikasi komunikasi instruksional, rangsangan bisa terjadi, bahkan
diupayakan terjadinya yang ditujukan kepada pihak sasaran agar mereka bereaksi
sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan mengajar ataupun kuliah, di mana
banyak pesertanya yang tidak tertarik atau mengantuk, maka sang komunikator
instruksional atau pengajarnya bisa merangsangnya dengan sejumlah cara yang
bisa dilakukan, misalnya dengan bertanya tentang masalah-masalah tertentu yang
sedang trendy saat ini, atau bisa juga dengan mengadakan sedikit humor segar
untuk membangkitkan kesiagaan peserta dalam belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar